
MALANG, fpik.umi.ac.id — Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, berhasil meraih penghargaan Best Presenter atau Presenter Terbaik pada The 2nd International Conference on Shrimp (BICoS) 2026 yang dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya (UB), Malang, pada 17 Oktober 2026. Prestasi ini menjadi bentuk apresiasi terhadap kontribusi akademisi UMI dalam mengembangkan inovasi teknologi yang berpotensi meningkatkan kualitas dan produktivitas perbenihan udang di Indonesia.
Tim peneliti tersebut diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Hattah Fattah, M.S., dengan anggota Dr. Ir. Ramdan Satra dan Dr. Ir. Sitti Rahbiah. Penelitian yang dilaksanakan oleh tim dosen FPIK UMI ini memperoleh pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Penelitian Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis (SINERGI) 2026.
Penelitian tersebut mengangkat tema “Asisten Digital Perbenihan Udang”, yakni pengembangan teknologi digital yang dirancang untuk mendukung pengelolaan kegiatan perbenihan udang, terutama dalam menjaga dan mengendalikan kualitas air. Pengembangan ini mengintegrasikan teknologi Internet of Aquaculture Things (IoAT) dan Artificial Intelligence (AI) sebagai pendekatan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan usaha perbenihan.
Melalui penerapan teknologi tersebut, tim peneliti berupaya menghadirkan sistem yang mampu membantu mendeteksi potensi permasalahan selama proses perbenihan serta memberikan solusi berbasis kecerdasan buatan. Dengan demikian, kegiatan produksi benur diharapkan dapat berlangsung lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan. Selain menghasilkan inovasi teknologi, penelitian ini juga diarahkan pada pengembangan produk yang berpotensi dikomersialkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi biru Indonesia.
Prof. Muhammad Hattah Fattah menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan solusi teknologi yang dapat menjawab berbagai tantangan nyata dalam industri perbenihan udang.
“Penelitian ini kami arahkan untuk menghadirkan solusi teknologi yang dapat menjawab persoalan nyata di sektor perbenihan udang. Melalui integrasi teknologi digital, kecerdasan buatan, dan inovasi pengelolaan kualitas air, kami berharap proses produksi benur dapat berlangsung lebih terkontrol, produktif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang dihasilkan melalui penelitian ini adalah teknologi pengolahan air yang diberi nama Filter Ganda Si-Karsa. Teknologi tersebut dikombinasikan dengan modifikasi konstruksi kolam untuk membantu mempertahankan kestabilan kualitas air sekaligus menciptakan kondisi lingkungan pemeliharaan yang lebih optimal bagi juvenil udang.
Inovasi ini dikembangkan untuk menjawab tantangan dalam penerapan teknologi Pre-Grow Out Nursery Pond, yang dikenal di Indonesia sebagai teknologi pentokolan. Salah satu kendala yang masih dihadapi pada tahap tersebut adalah rendahnya sintasan atau survival rate juvenil udang, dengan rata-rata sintasan yang dilaporkan sekitar 23 persen.
Padahal, tahap pentokolan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas juvenil sekaligus mempersingkat masa pemeliharaan pada fase budidaya yang rentan terhadap serangan penyakit, khususnya setelah udang menjalani sekitar 60 hari masa budidaya.
Dalam forum BICoS 2026, tim dosen FPIK UMI mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Si Karsa Double-Filter and Pond Construction Control Suspended Solids and Fluctuations in Temperature and Oxygen in Tiger Shrimp.” Artikel ilmiah tersebut direncanakan untuk dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus.
Berdasarkan hasil penelitian yang dipresentasikan, penerapan Filter Ganda Si-Karsa yang dipadukan dengan modifikasi konstruksi kolam mampu menurunkan konsentrasi total padatan tersuspensi (total suspended solids/TSS) dalam air laut dari 14 mg/L menjadi 9 mg/L. Penurunan tersebut menunjukkan adanya perbaikan pada parameter kualitas air yang menjadi salah satu faktor penting dalam pemeliharaan juvenil udang.
Selain menurunkan TSS, teknologi ini juga dilaporkan mampu menjaga kadar oksigen pada kisaran 6,5–8,0 serta temperatur air antara 29–30 derajat Celsius. Kondisi kualitas air yang lebih terkendali tersebut berkaitan dengan pencegahan pembengkakan dan pendarahan lamela insang serta infeksi penyakit pada juvenil udang. Dalam pengujian yang dipresentasikan, tingkat sintasan juvenil udang berhasil mencapai 98 persen.
Menurut Prof. Hattah, capaian tersebut menjadi perkembangan yang menggembirakan bagi upaya peningkatan keberhasilan teknologi pentokolan udang. Pengendalian kualitas air melalui sistem filtrasi yang terintegrasi dengan konstruksi kolam yang tepat dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung kesehatan dan meningkatkan kelangsungan hidup juvenil udang.
“Capaian sintasan 98 persen menjadi hasil yang sangat menggembirakan bagi pengembangan teknologi pentokolan. Hasil ini menunjukkan bahwa pengendalian kualitas air melalui integrasi sistem filtrasi dan konstruksi kolam yang tepat berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup juvenil udang,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengembangan inovasi tersebut tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik dan publikasi ilmiah, tetapi juga pada pemanfaatannya secara langsung oleh pelaku industri perikanan budidaya. Oleh karena itu, efektivitas teknologi, kemudahan pengoperasian, dan peluang komersialisasi menjadi aspek penting dalam pengembangan Asisten Digital Perbenihan Udang.
“Kami ingin memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan dari penelitian dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi pembudidaya. Karena itu, aspek efektivitas teknologi, kemudahan pengoperasian, dan peluang komersialisasi menjadi perhatian dalam pengembangan Asisten Digital Perbenihan Udang,” lanjutnya.

Penghargaan Best Presenter yang diraih tim dosen FPIK UMI dalam konferensi internasional tersebut semakin memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi berbasis penelitian untuk menjawab kebutuhan sektor perikanan budidaya. Selain menjadi bentuk pengakuan terhadap kualitas presentasi ilmiah, keikutsertaan dalam BICoS 2026 juga membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan dan pengenalan teknologi hasil penelitian kepada komunitas akademik serta peneliti di bidang perudangan.
Saat ini, teknologi Filter Ganda Si-Karsa sedang dalam proses pengajuan paten melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Kementerian Hukum Republik Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perlindungan kekayaan intelektual sekaligus hilirisasi hasil penelitian agar inovasi yang dikembangkan memiliki dasar hukum untuk pengembangan lebih lanjut dan pemanfaatan secara komersial.
Prof. Hattah berharap penghargaan yang diraih dapat menjadi motivasi bagi tim peneliti untuk terus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan riset yang inovatif dan berdampak. Harapan kami, teknologi yang dihasilkan tidak berhenti pada publikasi dan forum ilmiah, tetapi dapat diadopsi oleh industri perbenihan udang dan berkontribusi terhadap peningkatan daya saing perikanan budidaya Indonesia,” tutupnya.
Pencapaian ini menjadi salah satu wujud kontribusi dosen FPIK UMI dalam mengembangkan riset terapan yang berorientasi pada kebutuhan industri. Melalui inovasi teknologi perbenihan udang, FPIK UMI terus mengambil peran dalam mendorong peningkatan produktivitas, penguatan daya saing perikanan budidaya, dan pengembangan ekonomi biru Indonesia.