Berdaya saing global, berkarakter Islami EN

Berita

Dosen FPIK UMI Edukasi Masyarakat dan Rehabilitasi Mangrove di Takalar, Perkuat Mitigasi Abrasi Berbasis Ekosistem

Terbit
23 Oktober 2026
Penulis
Admin FPIK
tampilan
48
Dosen FPIK UMI Edukasi Masyarakat dan Rehabilitasi Mangrove di Takalar, Perkuat Mitigasi Abrasi Berbasis Ekosistem

TAKALAR, FPIK UMI — Upaya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir terus dilakukan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kali ini, tim dosen FPIK UMI melaksanakan edukasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove di Dusun Puntondo, Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, sebagai langkah mendukung mitigasi abrasi pantai dan pelestarian sumber daya pesisir.

Kegiatan bertema “Edukasi dan Rehabilitasi Ekosistem Mangrove sebagai Upaya Mitigasi Abrasi Pantai di Dusun Puntondo, Desa Laikang, Kabupaten Takalar” ini melibatkan masyarakat pesisir dan Kelompok Bakau Lestari sebagai mitra dalam pelaksanaan serta keberlanjutan program di tingkat lokal.

Tim pengabdian diketuai oleh Asmidar, S.Kel., M.Si., bersama anggota Ir. Andi Muhammad Akram, S.Kel., M.Ling. Kegiatan ini merupakan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan mengintegrasikan pengetahuan di bidang kelautan dan lingkungan untuk menjawab tantangan pengelolaan wilayah pesisir.

Mangrove, Benteng Alami Pesisir dan Habitat Biota Perairan

Rangkaian kegiatan diawali dengan edukasi mengenai peran strategis ekosistem mangrove dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Dalam sesi ini, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai fungsi mangrove sebagai peredam energi gelombang, penahan sedimen, serta habitat dan tempat pembesaran bagi berbagai biota perairan.

Dari perspektif ilmu perikanan dan kelautan, keberadaan mangrove memiliki keterkaitan erat dengan produktivitas perairan pesisir. Ekosistem ini menyediakan tempat berlindung dan mencari makan bagi berbagai organisme, sekaligus mendukung keberlangsungan rantai makanan dan sumber daya perikanan.

Tim pengabdian juga memberikan pemahaman tentang faktor-faktor penyebab abrasi pantai, dampak kerusakan vegetasi pesisir, serta pentingnya rehabilitasi mangrove sebagai salah satu pendekatan mitigasi berbasis ekosistem.

Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pelestarian mangrove bukan sekadar menjaga keberadaan pepohonan di sepanjang pantai, melainkan juga melindungi habitat biota, mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan, dan menjaga ruang hidup masyarakat pesisir.

Aksi Rehabilitasi, Libatkan Masyarakat Pesisir

Setelah sesi edukasi, tim dosen bersama masyarakat melaksanakan rehabilitasi mangrove di kawasan pesisir Dusun Puntondo. Kegiatan lapangan meliputi persiapan bahan tanaman, pengenalan teknik penanaman, hingga penanaman mangrove secara bersama-sama.

Keterlibatan masyarakat menjadi elemen penting dalam pelaksanaan program ini. Rehabilitasi mangrove tidak hanya berorientasi pada jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga pada keberhasilan tanaman untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang menjadi vegetasi yang mampu menjalankan fungsi ekologisnya.

Oleh karena itu, masyarakat didorong untuk berperan aktif dalam merawat tanaman, memantau pertumbuhannya, serta menjaga kawasan pesisir dari aktivitas yang berpotensi merusak habitat mangrove.

Pendekatan partisipatif ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap kelestarian ekosistem pesisir. Dengan demikian, rehabilitasi mangrove tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi berlanjut melalui pemeliharaan dan pengawasan secara berkala.

Perkuat Kapasitas Kelompok Bakau Lestari

Selain edukasi dan penanaman, program pengabdian ini juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas Kelompok Bakau Lestari dalam pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.

Tim dosen memperkenalkan panduan rehabilitasi dan pemeliharaan mangrove yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran sekaligus acuan praktis bagi kelompok masyarakat. Materi panduan mencakup pengenalan fungsi ekologis mangrove, teknik rehabilitasi, pemeliharaan tanaman, serta pemantauan pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup mangrove.

Pendampingan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan kelompok dalam melanjutkan perawatan dan pemantauan secara mandiri. Dengan adanya pengetahuan dan panduan yang dapat diterapkan di lapangan, masyarakat diharapkan semakin siap mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove di wilayahnya.

Keberhasilan rehabilitasi mangrove sendiri memerlukan proses jangka panjang. Selain pemeliharaan tanaman, pemantauan perlu memperhatikan tingkat kelangsungan hidup bibit, pertumbuhan vegetasi, serta kesesuaian kondisi lingkungan dengan kebutuhan mangrove. Faktor-faktor tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan upaya rehabilitasi memberikan manfaat ekologis yang berkelanjutan.

Sinergi Perguruan Tinggi dan Masyarakat untuk Pesisir Berkelanjutan

Melalui kegiatan ini, FPIK UMI menegaskan peran perguruan tinggi dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan keahlian di bidang perikanan serta kelautan untuk mendukung penyelesaian persoalan lingkungan di tengah masyarakat.

Kolaborasi antara tim dosen, Kelompok Bakau Lestari, dan masyarakat pesisir menjadi fondasi penting dalam membangun upaya konservasi yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan lingkungan, tetapi juga pada peningkatan kesadaran dan kapasitas masyarakat sebagai pengelola wilayah pesisir.

Ke depan, keberlanjutan program diharapkan dapat mendorong terbentuknya praktik pengelolaan mangrove yang lebih terarah, partisipatif, dan berbasis pemantauan. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan, serta memperkuat ketahanan kawasan pantai terhadap ancaman abrasi.

Melalui pengabdian kepada masyarakat ini, FPIK UMI terus mendorong sinergi antara pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan, dan aksi nyata di lapangan demi terwujudnya pengelolaan wilayah pesisir yang lestari dan berkelanjutan.