Berdaya saing global, berkarakter Islami EN

Berita

Dosen FPIK UMI Laksanakan Rehabilitasi Ekosistem Lamun melalui Transplantasi Berbasis Partisipasi Masyarakat di Pulau Satangnga

Terbit
26 Oktober 2026
Penulis
Admin FPIK
tampilan
7
Dosen FPIK UMI Laksanakan Rehabilitasi Ekosistem Lamun melalui Transplantasi Berbasis Partisipasi Masyarakat di Pulau Satangnga

TAKALAR, FPIK UMI – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) terus berkontribusi dalam pelestarian ekosistem pesisir dan laut melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan dan praktik rehabilitasi ekosistem lamun menggunakan metode transplantasi yang melibatkan partisipasi masyarakat di Pulau Satangnga, Kecamatan Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Minggu (11/10/2026).

Kegiatan bertajuk “Rehabilitasi Ekosistem Lamun melalui Transplantasi Berbasis Edukasi dan Partisipasi Masyarakat di Pulau Satangnga, Kabupaten Takalar” ini dipimpin oleh Dr. Ir. Hamsiah, M.Si., dengan anggota tim Prof. Dr. Ir. Andi Asni, M.P., dan Asmidar, S.Kel., M.Si. Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan mahasiswa Muh. Arief dari jenjang S2 dan Muh. Nasir dari jenjang S1, serta alumni Program Magister Manajemen Pesisir dan Teknologi Kelautan, Eko Saputra, S.Kel., M.Si., sebagai pemateri.

Kegiatan ini dilaksanakan melalui kemitraan dengan Kelompok Jagad Samudera yang diketuai oleh Masriadi Dg. Tika. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong peningkatan kapasitas masyarakat agar dapat berperan aktif dalam menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir di wilayahnya.

Tingkatkan Pengetahuan Masyarakat tentang Rehabilitasi Lamun

Ketua Tim PkM, Dr. Ir. Hamsiah, M.Si., mengungkapkan bahwa peserta dari Kelompok Jagad Samudera menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti rangkaian pelatihan. Kegiatan ini memberikan pengetahuan baru mengenai teknik rehabilitasi ekosistem lamun melalui transplantasi, yang sebelumnya belum banyak dikenal oleh masyarakat setempat.

Menurutnya, masyarakat selama ini lebih familiar dengan metode transplantasi yang diterapkan dalam rehabilitasi terumbu karang. Melalui kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada teknik rehabilitasi lamun, mulai dari pengenalan media tanam hingga praktik transplantasi secara langsung di lapangan.

“Pelatihan ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mempelajari teknik transplantasi lamun serta penerapannya secara langsung di lapangan,” jelas Hamsiah.

Edukasi mengenai ekosistem lamun dinilai penting karena pemahaman masyarakat tentang fungsi dan manfaatnya masih perlu ditingkatkan. Salah satu persoalan yang ditemukan di kawasan Pulau Satangnga adalah aktivitas penambatan perahu di atas hamparan lamun. Aktivitas tersebut berpotensi merusak tutupan lamun dan mengganggu pertumbuhannya apabila tidak dikelola dengan baik.

Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya perlindungan dan rehabilitasi yang disertai edukasi berkelanjutan. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar pemanfaatan wilayah pesisir dapat berlangsung secara bijaksana tanpa mengabaikan keberlanjutan ekosistem laut.

Lamun Memiliki Peran Penting bagi Ekosistem Pesisir

Dalam pemaparannya, Hamsiah menjelaskan bahwa ekosistem lamun mempunyai peranan strategis, baik dari aspek ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, lamun berfungsi membantu meredam energi gelombang, menstabilkan sedimen, serta menyediakan habitat dan daerah mencari makan bagi berbagai biota laut.

Keberadaan ekosistem lamun juga mendukung produktivitas perairan pesisir dan keberlangsungan kehidupan berbagai organisme yang bergantung pada habitat tersebut.

Dari sisi ekonomi, ekosistem lamun berkontribusi terhadap keberlanjutan kegiatan perikanan, menyediakan jasa lingkungan, serta memiliki potensi untuk mendukung pengembangan wisata pesisir. Oleh karena itu, perlindungan dan rehabilitasi lamun perlu menjadi bagian dari upaya pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan.

“Ekosistem lamun memiliki berbagai fungsi penting, baik secara ekologis maupun ekonomis. Oleh karena itu, kelestariannya perlu dijaga melalui upaya pengelolaan dan rehabilitasi yang berkelanjutan,” ungkap Hamsiah.

Praktik Transplantasi Menggunakan Bahan Ramah Lingkungan

Selain mendapatkan materi edukasi, peserta mengikuti demonstrasi dan praktik langsung rehabilitasi lamun melalui metode transplantasi. Dalam kegiatan tersebut, tim memperkenalkan dua jenis media tanam, yakni rangka bambu (bamboo frame) dan anyaman tikar, yang digunakan sebagai penopang dalam proses penanaman lamun.

Pemateri, Eko Saputra, S.Kel., M.Si., menjelaskan bahwa pemilihan kedua media tersebut mempertimbangkan penggunaan bahan alami yang berpotensi terurai secara alami di lingkungan. Untuk mengikat lamun pada media tanam, digunakan tali berbahan serat kelapa sebagai salah satu upaya menerapkan teknik rehabilitasi yang lebih ramah lingkungan.

Melalui praktik ini, masyarakat memperoleh pengalaman langsung dalam mengenali bahan dan media tanam, memahami tahapan transplantasi, serta mempelajari penerapan metode rehabilitasi lamun di lapangan. Pendekatan praktik diharapkan dapat membantu peserta memahami teknik yang diperkenalkan sekaligus menjadi bekal dalam mendukung kegiatan pemulihan ekosistem pesisir di masa mendatang.

Perluas Upaya Rehabilitasi Ekosistem Pesisir

Ketua Kelompok Jagad Samudera, Masriadi Dg. Tika, menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa kelompok yang dibentuk pada 2013 atas prakarsa Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan itu selama ini aktif melaksanakan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove. Namun, rehabilitasi terumbu karang dan ekosistem lamun belum pernah menjadi bagian dari kegiatan kelompok.

Menurutnya, pelatihan yang dilaksanakan bersama tim PkM UMI memberikan wawasan dan pengalaman baru bagi anggota kelompok untuk memperluas cakupan kegiatan rehabilitasi ekosistem pesisir.

“Dengan adanya kegiatan ini, kelompok memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru untuk memperluas upaya rehabilitasi ekosistem pesisir, tidak hanya pada mangrove, tetapi juga pada ekosistem lamun,” ujar Masriadi Dg. Tika.

Pengalaman tersebut diharapkan dapat mendorong Kelompok Jagad Samudera untuk semakin aktif dalam mendukung pelestarian berbagai ekosistem pesisir, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan di Pulau Satangnga.

Wujud Pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi

Pelaksanaan kegiatan PkM ini merupakan wujud kontribusi sivitas akademika UMI dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan secara langsung, kegiatan ini berupaya menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir dan laut.

Pendekatan edukasi dan partisipasi masyarakat menjadi salah satu strategi untuk membangun kepedulian lingkungan yang berkelanjutan. Tidak hanya berorientasi pada pengenalan teknik transplantasi, kegiatan ini juga mendorong masyarakat agar memahami pentingnya menjaga habitat lamun dan terlibat dalam upaya rehabilitasinya.

Melalui kegiatan tersebut, FPIK UMI memperkuat sinergi antara dosen, mahasiswa, alumni, dan kelompok masyarakat dalam mendukung pelestarian ekosistem pesisir. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pengembangan kegiatan rehabilitasi lamun secara berkelanjutan di Pulau Satangnga, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan lingkungan laut yang lestari.

FPIK UMI berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat pesisir.