
Kamri Alwi, S.Pi., M.Si. membangun perjalanan panjang dari penyuluh perikanan, perencanaan pembangunan, pengadaan barang dan jasa hingga memimpin Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato. Alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini kini dipercaya memimpin Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tenggara, setelah resmi menduduki jabatan Kepala Balai sejak 18 Agustus 2026.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada perjalanan karier yang tidak bergerak dalam satu garis, tetapi justru menjadi kuat karena pengalaman dari berbagai bidang. Kamri Alwi, S.Pi., M.Si. mengalaminya. Ia memulai karier sebagai Penyuluh Perikanan Pertama. Kemudian bekerja dalam perencanaan, perikanan tangkap, pembangunan daerah, pengadaan barang dan jasa, hingga dipercaya menjadi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato.
Kini tanggung jawabnya bergerak ke tingkat yang lebih luas. Sejak 18 Agustus 2026, Kamri dipercaya menjadi Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tenggara.
Laman resmi BRMP Sulawesi Tenggara mencatat Kamri sebagai Kepala Balai dan menyebut perjalanan panjangnya di bidang pemerintahan, pertanian, perikanan, perencanaan pembangunan serta pengadaan barang dan jasa. Perjalanan tersebut memperlihatkan satu hal: pengalaman lintas bidang tidak selalu membuat seseorang kehilangan arah. Jika terhubung, justru dapat membentuk kapasitas kepemimpinan yang lebih utuh.
Dari Perikanan UMI
Hubungan Kamri dengan UMI dibangun melalui dua jenjang pendidikan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Muslim Indonesia Ujung Pandang pada 1999. Kemudian kembali melanjutkan pendidikan Magister Manajemen Pesisir dan Teknologi Kelautan UMI Makassar, yang diselesaikannya pada 2016. Riwayat pendidikan tersebut juga tercantum dalam profil resmi Kepala BRMP Sulawesi Tenggara.
Namun hubungan Kamri dengan UMI tidak hanya tercatat melalui ijazah. Semasa mahasiswa, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjadi Ketua Senat Fakultas Perikanan UMI Ujung Pandang periode 1997–1998, serta terlibat dalam Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia dan KSR Bulan Sabit Merah UMI.
Ada satu pengalaman lain dari kampus yang tetap diingatnya hingga hari ini. Mata Kuliah Ciri Khusus (MKCK). Termasuk pengalaman mengikuti Pesantren Kilat I sampai IV dan berbagai mata kuliah keagamaan. Dalam berbagai tugas dan laporan ketika itu, mahasiswa dibiasakan tidak hanya membahas persoalan dari perspektif keilmuan. Ada upaya menghubungkannya dengan nilai keagamaan dan pesan Al-Qur'an yang relevan.
Bagi Kamri, pengalaman tersebut meninggalkan satu cara pandang: "Ilmu tidak berjalan sendirian. Ilmu berjalan bersama nilai." Nilai itu kemudian dibawanya memasuki dunia kerja.
Karier Dimulai sebagai Penyuluh Perikanan
Pada 2006, Kamri memulai karier sebagai Penyuluh Perikanan Pertama. Ia berada dekat dengan sektor yang menjadi dasar pendidikan akademiknya: perikanan. Dari sana, tanggung jawabnya berkembang. Pada 2009–2010, ia dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Kepala Subbagian Perencanaan, Kepegawaian dan Umum BPPKP Kabupaten Pohuwato. Pada periode yang sama, ia juga pernah menjadi Kepala Seksi Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pohuwato. Kemudian ia dipercaya sebagai Kepala Seksi Perumusan dan Pengendalian pada Dinas Kelautan dan Perikanan.
Pada 2012–2013, Kamri menjadi Kepala Subbagian Perencanaan Data dan Pelaporan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pohuwato. Di sinilah pengalamannya mulai berkembang dari persoalan teknis menuju tata kelola pemerintahan. Ia terlibat dalam penyusunan Renstra, RKPD dan DPA, serta berbagai dokumen pelaporan kinerja pemerintahan. Dari penyuluhan, ia belajar lapangan. Dari perencanaan, ia mulai melihat bagaimana kebijakan dibangun.
Dari Perikanan ke Perencanaan Pembangunan
Perjalanan berikutnya membawa Kamri keluar dari ruang sektoral perikanan. Pada 2013–2014, ia dipercaya menjadi Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bappeda Kabupaten Pohuwato. Ruang kerjanya menjadi lebih luas. Ia terlibat dalam perumusan kebijakan pembangunan fisik, sarana dan prasarana, pengembangan wilayah tertinggal serta kerja sama pembangunan antardaerah.
Setelah itu, Kamri kembali ke sektor yang menjadi salah satu fondasi keilmuannya. Pada 2014–2016, ia menjadi Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pohuwato. Perpindahan tersebut bukan berarti kembali ke titik awal. Ia kembali ke perikanan dengan pengalaman baru dalam perencanaan pembangunan.
Memperkuat Tata Kelola Pengadaan
Ada satu kompetensi lain yang kemudian menjadi bagian penting perjalanan Kamri: pengadaan barang dan jasa pemerintah. Pengalamannya pada bidang tersebut telah berkembang sejak sekitar 2008 dan semakin kuat ketika ia dipercaya menjadi Kepala Bagian Layanan Pengadaan Sekretariat Daerah Kabupaten Pohuwato pada 2016–2019.
Pada 2019–2021, ia kemudian menjadi Kepala Bagian Pengadaan Barang/Jasa Sekretariat Daerah Kabupaten Pohuwato. Pengalaman itu diperkuat melalui pendidikan dan sertifikasi pengadaan, termasuk Sertifikat Ahli Pengadaan Nasional dan berbagai pelatihan terkait pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Fase ini memberikan dimensi baru dalam perjalanan Kamri. Ia tidak lagi hanya memahami program dari sisi teknis. Ia juga memahami bagaimana sebuah program direncanakan, dianggarkan, diproses, dan dipertanggungjawabkan. Lapangan memberinya pengalaman. Perencanaan memberinya perspektif. Pengadaan memberinya disiplin tata kelola.
Memimpin Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato
Pada 2021, perjalanan tersebut bertemu pada satu tanggung jawab yang lebih besar. Kamri dipercaya menjadi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato. Pemerintah Kabupaten Pohuwato tercatat kembali mengukuhkannya pada jabatan tersebut dalam penataan pejabat pimpinan tinggi pratama.
Sebagai Kepala Dinas Pertanian, ruang kerjanya mencakup perumusan, koordinasi, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang pertanian. Pada fase ini, berbagai pengalaman sebelumnya mulai bertemu. Penyuluhan. Perencanaan. Pengelolaan program. Pengadaan barang dan jasa. Kepemimpinan birokrasi. Semuanya menjadi bagian dari pekerjaannya dalam pembangunan pertanian.
Pada Mei 2026, misalnya, Kamri masih tercatat sebagai Kepala Dinas Pertanian Pohuwato ketika pemerintah daerah memperkuat program ketahanan pangan melalui pengembangan pertanian dan dukungan pemerintah pusat. Ia juga terlibat dalam berbagai penugasan pembangunan sarana dan prasarana pertanian serta agenda pembangunan daerah.
Dari Kepala Dinas ke Kepala BRMP Sulawesi Tenggara
Perjalanan itu memasuki fase baru pada 18 Agustus 2026. Kamri Alwi dipercaya menjadi Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Tenggara. Penetapan tersebut tercatat pada laman resmi BRMP Sulawesi Tenggara. Pada tanggal yang sama, Kementerian Pertanian juga melaksanakan pelantikan pejabat BRMP, termasuk Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian pada lima provinsi.
Perpindahan tersebut memiliki makna tersendiri. Kamri yang sebelumnya bekerja langsung dalam pembangunan pertanian daerah kini berada pada institusi yang membawa agenda penerapan modernisasi pertanian. Ruang pengabdiannya berkembang dari Pohuwato menuju Sulawesi Tenggara. Dari pemerintah kabupaten menuju unit Kementerian Pertanian. Dari mengelola pembangunan pertanian daerah menuju penguatan penerapan teknologi dan modernisasi pertanian.
Memimpin Modernisasi Pertanian Sulawesi Tenggara
Tidak lama setelah memimpin BRMP Sulawesi Tenggara, Kamri mulai bergerak pada agenda penerapan modernisasi pertanian. Pada 4 September 2026, ia bersama tim meninjau Instalasi Pengujian dan Penerapan Modernisasi Pertanian (IP2MP) Wawotobi untuk memperkuat kesiapan sarana, prasarana dan tata kelola instalasi. BRMP Sulawesi Tenggara menjelaskan bahwa IP2MP Wawotobi diarahkan menjadi salah satu penghubung inovasi teknologi pertanian dengan penerapannya di lapangan.
Pada 14 September 2026, Kamri juga melakukan koordinasi dengan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara untuk menyelaraskan program strategis Kementerian Pertanian dengan pemerintah daerah. Koordinasi tersebut antara lain diarahkan pada penguatan sarana dan prasarana, optimalisasi lahan, pendampingan masyarakat tani, peningkatan produktivitas serta kemandirian pangan. Di sinilah perjalanan panjang Kamri menemukan ruang baru. Pengalaman lapangan bertemu teknologi. Pengalaman birokrasi bertemu modernisasi. Pengalaman daerah bertemu agenda pertanian yang lebih luas.
Ilmu yang Berpindah Ruang
Jika perjalanan Kamri ditarik ke belakang, ia tampak seperti berpindah-pindah bidang. Perikanan. Penyuluhan. Perencanaan. Pengadaan. Pertanian. Modernisasi. Tetapi sebenarnya ada satu kemampuan yang terus tumbuh: kemampuan membawa ilmu dan pengalaman dari satu ruang untuk bekerja di ruang berikutnya.
Ia tidak meninggalkan pengalaman perikanan ketika memasuki perencanaan. Ia tidak meninggalkan pemahaman perencanaan ketika menangani pengadaan. Ia tidak meninggalkan disiplin tata kelola ketika memimpin pertanian. Dan ketika kini memimpin modernisasi pertanian, seluruh pengalaman tersebut menjadi modal kepemimpinan. Karena itu, diksi utama #088 adalah: "Ilmu yang Berpindah Ruang." Bukan berpindah tanpa arah. Tetapi ilmu dan pengalaman yang terus menemukan ruang pengabdian baru.
UMI yang Tetap Dibawa
Ada satu bagian kecil dari perjalanan Kamri yang justru memiliki makna besar. Ketika mengingat UMI, ia masih mengingat MKCK, Pesantren Kilat I–IV, dan pendidikan keagamaan yang dijalaninya sebagai mahasiswa. Pengalaman itu membentuk kebiasaan untuk tidak memisahkan ilmu dari nilai.
Bertahun-tahun kemudian, bidang pekerjaannya berubah berkali-kali. Jabatannya berubah. Ruang pengabdiannya berubah. Tetapi prinsipnya tetap relevan: Ilmu harus memiliki nilai. Kompetensi harus memiliki tanggung jawab. Jabatan harus memiliki manfaat. Itulah bagian dari pendidikan yang tidak tercetak pada ijazah, tetapi hidup dalam cara seseorang menjalankan pekerjaannya.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Kamri Alwi, S.Pi., M.Si. merupakan alumnus Universitas Muslim Indonesia yang menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1999 dan Magister Manajemen Pesisir dan Teknologi Kelautan UMI pada 2016. Ia memulai karier sebagai Penyuluh Perikanan Pertama. Pengalamannya kemudian berkembang melalui perikanan, perencanaan pembangunan, pengadaan barang dan jasa, hingga memimpin Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato.
Sejak 18 Agustus 2026, tanggung jawab itu berkembang ketika ia dipercaya menjadi Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Tenggara. Perjalanannya membentuk satu rangkaian: Perikanan UMI → Penyuluh Perikanan → Perencanaan → Bappeda → Perikanan Tangkap → Pengadaan Barang/Jasa → Kepala Dinas Pertanian Pohuwato → Kepala BRMP Sulawesi Tenggara → Modernisasi Pertanian.
Dari kampus, ia membawa ilmu dan nilai. Dari lapangan, ia mengumpulkan pengalaman. Dari pengalaman, ia membangun kapasitas memimpin.
Kini, seluruh perjalanan itu bertemu pada tanggung jawab baru: mendorong modernisasi pertanian agar semakin dekat dengan kebutuhan petani dan pembangunan daerah. "Ilmu yang berpindah ruang bukan kehilangan arah. Ia sedang memperluas manfaat." Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)