
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) berpartisipasi aktif dalam pertemuan Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan (FKPTPK) ke-2 Tahun 2026, yang diselenggarakan di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, pada 9–11 September 2026.
Forum nasional tersebut diikuti sekitar sekitar 300 peserta yang berasal dari 158 perguruan tinggi bidang perikanan dan kelautan di seluruh Indonesia, yang menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi, jejaring, menyelaraskan pengembangan kurikulum sebagai respon terhadap kebutuhan industri, serta merumuskan kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap pembangunan sektor kelautan dan perikanan nasional.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Diponegoro yang diwakili oleh Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Keuangan, Aset, Bisnis dan Kerumahtanggaan Dr. Warsito Kawedar, S.E., M.Si., Akt.
Sejumlah agenda strategis dibahas dalam pertemuan ini, antara lain bestline peminatan bidang perikanan dan kelautan, rekomendasi nasional pengembangan perikanan dan kelautan di Indonesia, jejaring kerja sama untuk pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU), nomenklatur dan gelar, Body of Knowledge (BoK), kesepakatan kurikulum ini, keorganisasian, serta pemilihan pengurus periode 2026–2028.
Melalui proses musyawarah, tim formatur secara aklamasi menyepakati Prof. Agus Trianto, S.T., M.Sc., Ph.D., Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, ditetapkan sebagai Ketua FKPTPK periode 2026–2028.
Salah satu materi utama adalah Transformasi Program Studi untuk Peningkatan Animo Calon Mahasiswa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Sugiharto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian UNDIP, terkait pentingnya inovasi program studi agar semakin adaptif terhadap perkembangan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, dunia usaha, serta perkembangan sektor perikanan dan kelautan. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya mempertahankan eksistensi program studi, tetapi juga mampu menghadirkan keunggulan dan karakteristik akademik yang relevan sehingga meningkatkan daya tarik bagi calon mahasiswa.
Selain itu, dihadirkan juga Prof. Dr.nat.tech. Siswo Sumardiono, S.T., M.T., Direktur Akademik UNDIP, yang menyampaikan materi Strukturisasi Kurikulum OBE: Menjamin Ketercapaian CPL melalui Desain yang Sistematis dan Berdampak. Pembahasan ini menekankan pentingnya penyusunan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang memiliki keterkaitan sistematis antara profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan (CPL), bahan kajian, mata kuliah, proses pembelajaran, hingga asesmen. Dengan demikian, kurikulum tidak sekadar memenuhi struktur administratif, tetapi benar-benar menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Penguatan Body of Knowledge Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan*
Agenda penting lainnya adalah pembahasan mengenai Body of Knowledge (BoK) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Endang Hilmi, SHut., M.Si., IPU., ASEAN Eng. Pembahasan BoK menjadi sangat strategis karena berkaitan dengan penguatan identitas dan batas keilmuan program studi perikanan dan kelautan. BoK yang disepakati, diharapkan menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum, bahan kajian, CPL, mata kuliah, penelitian, serta pengembangan kepakaran dosen. Perguruan tinggi didorong untuk membangun BoK yang mampu menjawab perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus kebutuhan nyata sektor perikanan dan kelautan Indonesia.
Bagi FPIK UMI, penguatan BoK menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan dan keilmuan perikanan, termasuk penguatan bidang budidaya perairan/akuakultur yang diarahkan untuk mendukung pengembangan komoditas strategis nasional, misalnya udang, kepiting, lobster, tilapia dan rumput laut, serta peningkatan nilai tambah produk perikanan, penangkapan yang ramah lingkungan, eksplorasi dan penelitian dibidang kelautan.
FPIK UMI Dorong Peningkatan Produksi Udang Nasional
Secara khusus, FPIK UMI mendorong penguatan kontribusi perguruan tinggi terhadap peningkatan produksi udang nasional, karena udang sebagai komoditas strategis nasional yang berperan penting terhadap ekspor, ekonomi masyarakat, industri pengolahan, dan penyerapan tenaga kerja, khususnya alumni Perguruan Tinggi. Forum pimpinan juga merespon adanya impor udang yang tentu saja akan mempengaruhi harga dan menurunkan serapan olah industri dalam negeri. Oleh karena itu, kebijakan impor udang harus mengutamakan kepentingan nasional, keberlanjutan usaha budidaya, daya saing industri, dan biosekuriti.
Sehubungan dengan hal tersebut, Forum menyampaikan harapan utama sekaligus sebagai rekomendasi kepada Pemerintah Republik Indonesia, antara lain :
1. Hentikan Impor Udang dan tamakan Udang Produksi Budidaya Dalam Negeri Karena Produksi Domestik Budidaya Udang Masih Mampu Memenuhi Kebutuhan Industri Udang.
2. Lakukan Uji Dampak Impor dan hentikan Impor Berisiko Penyakit. Temuan Penyakit Atau Ketidaksesuaian Persyaratan Keamanan Harus Menjadi Dasar Untuk Penghentian Sementara Impor Dan Evaluasi Risiko Secara Menyeluruh.
3. Cegah Kebocoran Ke Pasar Domestik.
4. Bangun Satu Data Udang Nasional.
5. Libatkan Perguruan Tinggi sebagai Mitra Strategis Pemerintah dan Industri dalam Riset, Pengembangan Teknologi, Kajian Kebijakan, Biosekuriti, Peningkatan Produktivitas, dan Daya Saing Udang Nasional.