Berdaya saing global, berkarakter Islami EN

Berita

UMI Dorong Penguatan Traceability Industri Udang Nasional di Forum YSAI Banyuwangi

Terbit
4 Agustus 2026
Penulis
Admin FPIK
tampilan
7
UMI Dorong Penguatan Traceability Industri Udang Nasional di Forum YSAI Banyuwangi
 Banyuwangi — Universitas Muslim Indonesia (UMI) turut mengambil bagian dalam Diskusi Panel “Penguatan Traceability & Pasar Udang Indonesia: Membangun Kepercayaan Global, Menghidupkan Pasar Lokal” yang diselenggarakan Yayasan Sinergi Akuakultur Indonesia (YSAI) di Hotel Santika Banyuwangi, Selasa (4/8/2026). 
 
Pada forum tersebut, Prof. Dr. Ir. Andi Tamsil, M.S., IPM., Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UMI sekaligus Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI) hadir sebagai panelis bersama perwakilan pemerintah dan pelaku industri perudangan nasional. Dalam kesempatan itu disampaikan bahwa SCI merupakan organisasi yang menghimpun petambak udang Indonesia dan anggotanya berkontribusi besar terhadap produksi nasional, dengan estimasi hampir 70 persen produksi udang Indonesia berasal dari anggota SCI. 
 
Dalam pemaparannya, Prof. Andi Tamsil menegaskan bahwa masa depan industri udang Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga oleh kemampuan membuktikan integritas produk melalui sistem traceability yang dapat ditelusuri dari tambak hingga konsumen. Ia menyebut traceability sebagai “infrastruktur kepercayaan” yang menjadi fondasi daya saing udang Indonesia di pasar global maupun domestik. 
 
Menurutnya, industri udang perlu bergerak dari paradigma produce and sell menuju produce, prove, protect, and promote. Artinya, produksi harus disertai bukti data, jaminan keamanan pangan dan lingkungan, serta penguatan reputasi pasar. Diskusi panel juga menghadirkan narasumber dari kalangan industri, yakni Saut Hutagalung dari Asosiasi Pengolah dan Eksportir Udang Indonesia (AP5I) serta Denny Mulyono, Ketua Gabungan Pengusaha Pakan Udang Indonesia (GPPUI). 

Keduanya memberikan perspektif mengenai penguatan rantai pasok, peningkatan efisiensi industri, serta strategi memperkuat daya saing ekspor udang nasional. Prof. Andi Tamsil menyoroti sejumlah tantangan industri udang Indonesia, antara lain fragmentasi pembudidaya, pencatatan produksi yang belum seragam, rantai pasok yang panjang, kelemahan cold chain, risiko penyakit, dan keterbatasan kapasitas sumber daya manusia. Karena itu, ia mendorong pembangunan sistem ketelusuran yang terintegrasi mulai dari benur, produksi tambak, panen, pengolahan, distribusi, hingga konsumen. 
 
Selain penguatan pasar ekspor, forum ini juga menekankan pentingnya pasar domestik sebagai mesin pertumbuhan baru. Pasar lokal dinilai dapat menjadi sarana diversifikasi, memperkuat UMKM dan sektor kuliner, serta membangun kebanggaan terhadap produk udang Indonesia. Kegiatan yang diikuti sekitar 75 peserta dari unsur pemerintah, akademisi, asosiasi industri, pembudidaya, pelaku usaha pengolahan, ritel, dan stakeholder perudangan tersebut menjadi ruang dialog strategis untuk merumuskan langkah bersama dalam memperkuat daya saing industri udang nasional melalui tata kelola data, ketelusuran produk, dan pengembangan pasar yang berkelanjutan. 
 
Partisipasi UMI dalam forum nasional ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan industri perikanan yang modern, transparan, dan berkelanjutan melalui kontribusi keilmuan, riset, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.