Globally competitive, Islamic in character ID

News

Dari Kampus, Menjadi Dampak - Prof. Mauli Kasmi: Dari Budidaya Perairan UMI, Menyelami Laut hingga Memimpin Politeknik Pertanian Pangkep

Published
September 17, 2026
Author
Admin FPIK
views
5
Dari Kampus, Menjadi Dampak - Prof. Mauli Kasmi: Dari Budidaya Perairan UMI, Menyelami Laut hingga Memimpin Politeknik Pertanian Pangkep

Berangkat dari Budidaya Perairan Universitas Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. Mauli Kasmi, S.Pi., M.Si. menempuh perjalanan lebih dari tiga dekade dari penelitian sumber daya laut menuju konservasi, pemberdayaan masyarakat pesisir, inovasi, dan pendidikan vokasi. Kini, sebagai Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan periode 2025–2029, ia membawa pengalaman itu ke ruang yang lebih luas: membangun ekosistem pendidikan agro-maritim.

MAKASSAR, umi.ac.id — Di bawah permukaan laut, seekor ikan hias dapat membuka cerita yang jauh lebih besar daripada ukuran tubuhnya. Di sana ada habitat yang harus dijaga, masyarakat yang menggantungkan hidup pada laut, perdagangan yang menggerakkan ekonomi, serta pengetahuan yang menentukan apakah sumber daya dapat bertahan atau justru habis dieksploitasi. Bagi Prof. Dr. H. Mauli Kasmi, S.Pi., M.Si., ikan bukan sekadar objek penelitian. Ia adalah pintu masuk untuk memahami hubungan antara ekologi, ekonomi, teknologi, konservasi, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Perjalanan itu bermula dari Budidaya Perairan Universitas Muslim Indonesia (UMI). Dari kampus tersebut, Mauli membangun fondasi keilmuan yang kemudian membawanya meneliti sumber daya laut, mendampingi masyarakat, mengembangkan inovasi, hingga memimpin perguruan tinggi vokasi.

Bukan sekadar perjalanan dari mahasiswa menjadi profesor. Lebih dari itu, perjalanan Mauli adalah proses beralih dari mempelajari satu spesies menuju memahami dan membangun sebuah ekosistem.

Berawal dari Budidaya Perairan UMI

Mauli Kasmi lahir di Sumenep, Madura, 26 Agustus 1972. Ia menempuh pendidikan Budidaya Perairan di Universitas Muslim Indonesia pada 1990–1995. Dari UMI, fondasi ilmu perikanannya dibangun: memahami organisme air, lingkungan hidupnya, serta kemungkinan pemanfaatannya bagi manusia. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Agribisnis dan doktoral bidang Sistem-Sistem Pertanian dengan konsentrasi Perikanan di Universitas Hasanuddin. Namun, di balik jenjang pendidikan tersebut, ada satu tema yang terus mengikat perjalanan akademiknya: bagaimana sumber daya laut dapat dimanfaatkan tanpa kehilangan masa depannya. Pertanyaan itu kelak membawanya pada salah satu objek riset yang paling kuat dalam perjalanan keilmuannya.

Dari Ikan Hias, Menemukan Persoalan yang Lebih Besar

Objek itu adalah ikan hias injel Napoleon, Pomacanthus xanthometopon. Dalam disertasinya pada 2012, Mauli membahas bio-ekologi dan status pemanfaatan ikan tersebut di perairan Sulawesi Selatan. Ia tidak berhenti pada pertanyaan tentang tempat ikan itu hidup. Ia menelusuri lebih jauh: bagaimana populasinya, bagaimana ikan tersebut ditangkap dan diperdagangkan, bagaimana ukuran ikan memengaruhi pemanfaatan, serta bagaimana permintaan pasar berhubungan dengan keberlanjutan sumber daya. Dari satu spesies, terbuka persoalan yang lebih luas.

Ada ekosistem terumbu karang.

Ada nelayan dan pelaku usaha.

Ada rantai perdagangan.

Ada pasar ekspor.

Ada regulasi.

Dan ada kebutuhan untuk menjaga agar pemanfaatan tidak berubah menjadi eksploitasi.

Di titik itulah penelitian biologi bertemu dengan persoalan ekonomi dan sosial.

Di Balik Ikan, Ada Manusia

Ikan hias laut memiliki nilai ekonomi. Namun, di balik nilai tersebut terdapat kehidupan banyak orang.

Ada nelayan kecil yang mengandalkan hasil tangkapan.

Ada pengepul yang menghubungkan hasil laut dengan pasar.

Ada pelaku usaha yang mengembangkan perdagangan.

Ada masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan ekosistem terumbu karang.

Karena itu, penelitian ikan hias tidak pernah benar-benar berhenti pada ikan. Ia berbicara tentang hubungan antara manusia dan sumber daya laut. Bagaimana masyarakat memperoleh penghidupan? Bagaimana sumber daya tetap tersedia? Dan bagaimana ilmu pengetahuan dapat membantu keduanya menemukan keseimbangan? Laut memberi penghidupan. Ilmu membantu memastikan penghidupan itu tidak menghabiskan sumber kehidupannya sendiri. Pertanyaan tersebut kemudian mengubah cara pandang Mauli terhadap objek penelitiannya.

Dari Spesies menuju Ekosistem

Semakin dalam penelitian dilakukan, semakin luas sistem yang terlihat. Ikan terhubung dengan karang. Karang terhubung dengan habitat.

Habitat terhubung dengan masyarakat. Masyarakat terhubung dengan pasar. Pasar terhubung dengan regulasi. Dan seluruhnya terhubung dengan keberlanjutan.

Inilah gagasan yang merangkum perjalanan keilmuan Mauli: Dari Spesies menuju Ekosistem. Sebab persoalan laut hampir tidak pernah dapat diselesaikan dengan melihat satu bagian secara terpisah. Menjaga ikan berarti menjaga habitatnya. Menjaga habitat berarti memahami kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dan memahami masyarakat berarti memperhitungkan kebutuhan ekonomi, teknologi, serta kebijakan yang mengatur pemanfaatan sumber daya. Dari ruang penelitian, cara pandang itu kemudian bergerak menuju masyarakat.

Ketika Riset Turun ke Masyarakat

Perjalanan keilmuan Mauli berkembang melalui berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir, salah satunya melalui budidaya karang hias lestari berbasis masyarakat. Dalam pendekatan tersebut, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima pengetahuan. Mereka menjadi bagian dari proses pengelolaan sumber daya. Teknologi diperkenalkan. Produksi dikembangkan. Kualitas hasil ditingkatkan. Namun, keberlanjutan habitat tetap menjadi pertimbangan utama.

Di sinilah penelitian bergerak dari pertanyaan akademik menuju persoalan yang lebih konkret: bagaimana masyarakat pesisir memperoleh manfaat ekonomi tanpa merusak sumber daya yang menjadi tempat mereka menggantungkan kehidupan? Jawabannya tidak sederhana. Tetapi salah satu jalannya adalah mempertemukan kepentingan ekonomi dengan prinsip konservasi.

Konservasi Tidak Harus Berhadapan dengan Ekonomi

Konservasi sering dianggap berseberangan dengan ekonomi. Yang satu ingin menjaga. Yang lain ingin memanfaatkan. Padahal, tantangan sebenarnya adalah menemukan cara agar pemanfaatan tidak menghancurkan sumber daya yang menjadi fondasi ekonomi itu sendiri. Budidaya karang hias memberi gambaran tentang kemungkinan tersebut. Jika kebutuhan pasar hanya dipenuhi melalui pengambilan dari alam, tekanan terhadap ekosistem dapat meningkat. Namun, jika teknologi budidaya dikembangkan, sebagian kebutuhan dapat dipenuhi melalui produksi yang lebih terkelola. Di sinilah ilmu bekerja sebagai jembatan. Konservasi yang tidak memahami kehidupan masyarakat akan sulit bertahan. Ekonomi yang tidak memahami batas ekologi juga tidak akan bertahan. Dari gagasan itu, riset kemudian berkembang menjadi inovasi.

Dari Laut menuju Inovasi

Konsistensi Mauli dalam meneliti sumber daya perairan tercermin dalam berbagai karya akademik, publikasi, buku, dan pengembangan inovasi. Jejak keilmuannya mencakup ikan hias karang, pengelolaan sumber daya, agribisnis perikanan, serta pemberdayaan masyarakat pesisir.

Salah satu ruang inovasinya adalah pengembangan sistem budidaya dan pemeliharaan ikan serta karang hias. Pada tahap ini, ilmu tidak lagi hanya digunakan untuk menjelaskan kondisi laut. Ilmu mulai digunakan untuk merancang cara yang lebih baik dalam memanfaatkan sumber daya laut.

Rangkaian itu dapat diringkas sebagai: Research → Technology → Cultivation → Community → Sustainability. Namun, inovasi tidak akan berjalan sendiri. Ia membutuhkan aturan, kelembagaan, dan kebijakan yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan tindakan.

Ketika Riset Bertemu Kebijakan

Persoalan sumber daya laut tidak dapat diselesaikan hanya oleh peneliti dan masyarakat.

Ada regulasi yang harus dipatuhi.

Ada wilayah pengelolaan yang harus ditata.

Ada tata niaga yang perlu diawasi.

Ada perlindungan sumber daya yang harus ditegakkan.

Dan ada pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan yang harus dilibatkan.

Karena itu, pengalaman Mauli berkembang pula ke ruang yang mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan pengelolaan sumber daya perikanan.

Di sinilah tanggung jawab seorang peneliti berubah. Data tidak lagi hanya menjadi tabel dalam jurnal. Ia dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan bagaimana sumber daya dikelola, siapa yang memperoleh manfaat, dan bagaimana keberlanjutan dijaga. Riset menemukan bukti. Kebijakan menerjemahkan bukti itu menjadi tindakan bersama. Perjalanan akademik tersebut kemudian membawanya ke jenjang guru besar.

Dari Peneliti menuju Guru Besar

Menjadi profesor bukan titik tempat rasa ingin tahu berhenti. Justru, semakin luas pengetahuan seseorang, semakin banyak persoalan baru yang terlihat. Perjalanan Mauli terus berkembang melalui penelitian, publikasi, buku, inovasi, pengabdian masyarakat, organisasi profesi, dan pengembangan pendidikan. Ada satu prinsip yang kuat untuk menggambarkan sikap tersebut: "Menjadi Guru Besar tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti menjadi murid." Prinsip itu penting karena dunia yang dipelajarinya terus berubah.

Laut berubah.

Teknologi berubah.

Industri berubah.

Cara belajar berubah.

Dan perguruan tinggi pun harus berubah.

Perubahan itulah yang kemudian membawanya dari ruang penelitian menuju ruang kepemimpinan institusi.

Dari Laboratorium menuju Ruang Kepemimpinan

Pada 6 Maret 2025, Prof. Mauli Kasmi memasuki fase baru dalam perjalanan akademiknya. Ia dilantik sebagai Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) periode 2025–2029. Peran tersebut memperluas ruang dampaknya. Sebagai peneliti, ia mengembangkan pengetahuan. Sebagai dosen, ia mendidik mahasiswa. Sebagai profesor, ia membangun keilmuan. Namun, sebagai direktur, tanggung jawabnya menjadi lebih besar: membangun sistem agar mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, industri, pemerintah, dan masyarakat dapat bergerak dalam arah yang sama. Di sinilah pengalaman panjangnya membaca ekosistem laut memperoleh makna baru.

Ketika Pengalaman Riset Masuk ke Tata Kelola Kampus

Di laut, tidak ada organisme yang benar-benar hidup sendiri. Setiap bagian saling terhubung. Begitu pula kampus.

Ada mahasiswa.

Dosen.

Laboratorium.

Kurikulum.

Industri.

Pemerintah.

Masyarakat.

Alumni.

Teknologi.

Dan dunia kerja.

Jika masing-masing berjalan sendiri, dampaknya terbatas. Namun, jika seluruh unsur terhubung, perguruan tinggi dapat tumbuh menjadi ekosistem inovasi. Memimpin kampus pada akhirnya mirip memahami ekosistem: bukan membuat satu bagian menjadi hebat, tetapi membuat seluruh bagian mampu hidup, terhubung, dan bertumbuh bersama. Cara pandang itu relevan dengan arah pengembangan Polipangkep sebagai perguruan tinggi vokasi yang berakar pada pertanian dan kemaritiman.

Tekno Agro Maritim

Dalam kepemimpinannya, penguatan karakter Polipangkep pada bidang Tekno Agro Maritim menjadi salah satu gagasan penting. Konsep tersebut mempertemukan tiga dunia: teknologi, pertanian, dan kemaritiman. Ketiganya memiliki hubungan erat dengan kebutuhan Indonesia.

Pertanian membutuhkan teknologi.

Perikanan membutuhkan inovasi.

Industri membutuhkan sumber daya manusia terampil.

Masyarakat membutuhkan solusi yang dapat diterapkan.

Dan pendidikan vokasi harus mampu mempertemukan seluruh kebutuhan tersebut.

Dengan pendekatan ini, kampus tidak hanya mengajarkan bagaimana sesuatu dikerjakan. Kampus juga harus menjadi tempat teknologi diuji, industri dilibatkan, dan persoalan masyarakat diselesaikan. Agar gagasan itu tidak berhenti sebagai konsep, proses belajar harus semakin dekat dengan dunia nyata.

Dari Teaching Factory menuju Living Lab

Dalam pendidikan vokasi, laboratorium tidak harus selalu berada di dalam gedung.

Laut dapat menjadi laboratorium.

Tambak dapat menjadi laboratorium.

Industri dapat menjadi laboratorium.

Desa dapat menjadi laboratorium.

Pulau dapat menjadi laboratorium.

Konsep Teaching Factory dan Living Lab menjadi penting karena mahasiswa belajar melalui persoalan nyata. Mereka tidak hanya membaca bagaimana teknologi bekerja. Mereka menggunakannya. Menguji. Memperbaiki. Berinteraksi dengan masyarakat. Dan memahami konsekuensi ekonomi maupun ekologinya. Di sinilah pengalaman Mauli sebagai peneliti laut bertemu dengan tanggung jawabnya sebagai pemimpin pendidikan vokasi. Kampus tidak hanya membawa mahasiswa ke dunia kerja. Dunia nyata harus semakin banyak masuk ke dalam proses belajar mahasiswa.

Dalam konteks itu, kawasan pesisir dan kepulauan menjadi ruang belajar yang sangat penting.

Spermonde sebagai Ruang Belajar

Kepulauan Spermonde memiliki posisi khas dalam pembahasan tentang perikanan, karang, ikan hias, masyarakat pesisir, dan ekonomi bahari. Kawasan tersebut dapat dibaca bukan hanya sebagai lokasi penelitian, tetapi juga sebagai living laboratory—laboratorium kehidupan.

Di sana, mahasiswa dapat mempelajari ekologi, budidaya, agribisnis, teknologi, konservasi, kewirausahaan, hingga pemberdayaan masyarakat. Laut tidak lagi hanya menjadi objek pendidikan. Laut menjadi ruang pendidikan itu sendiri.

Namun, untuk memimpin pendidikan di tengah perubahan yang cepat, pengalaman masa lalu saja tidak cukup. Seorang pemimpin juga harus terus belajar.

Profesor yang Kembali Menjadi Murid

Setelah menjadi profesor, setelah puluhan tahun menjadi akademisi, bahkan setelah dipercaya memimpin perguruan tinggi, Mauli tetap menempatkan pembelajaran sebagai bagian dari perjalanan. Pengembangan kompetensinya berlanjut pada bidang manajemen risiko dan pendidikan berbasis kecerdasan buatan. Hal itu menunjukkan bahwa kepemimpinan perguruan tinggi hari ini menuntut lebih dari sekadar penguasaan bidang keilmuan.

Pemimpin kampus perlu memahami risiko, digitalisasi, kecerdasan buatan, perubahan dunia kerja, kolaborasi industri, dan masa depan pendidikan. Karena itu, kalimat "Menjadi Guru Besar tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti menjadi murid" bukan sekadar ungkapan. Ia adalah prinsip pembelajaran sepanjang hayat.

Dari Menyelam di Laut menuju Menyelami Perubahan

Dulu, Mauli menyelam untuk memahami kehidupan di bawah permukaan laut. Kini, tantangannya berbeda. Ia harus menyelami perubahan pendidikan, teknologi, industri, kecerdasan buatan, kebutuhan mahasiswa, dunia kerja, dan perubahan masyarakat. Objeknya berubah. Namun, cara berpikirnya tetap sama: jangan menilai sesuatu hanya dari permukaan. Seorang ilmuwan mencari apa yang terjadi di balik fenomena. Seorang pemimpin juga demikian. Masalah institusi sering kali tidak dapat diselesaikan hanya dengan melihat apa yang tampak. Ia harus memahami hubungan, sebab, dampak, dan kemungkinan perubahan yang terjadi di baliknya. Dari sinilah perjalanan Mauli dapat dibaca sebagai sebuah transformasi yang terus membesar.

Dari Satu Spesies menuju Sebuah Institusi

Pada awalnya, ia mempelajari organisme. Kemudian populasi. Lalu habitat. Masyarakat. Pasar. Konservasi. Teknologi. Kebijakan. Hingga akhirnya sebuah institusi pendidikan. Skalanya terus membesar, tetapi prinsipnya tetap sama: memahami hubungan antarbagian. Itulah yang membuat perjalanan Mauli bukan sekadar kisah seorang peneliti yang kemudian menjadi direktur. Ia adalah perjalanan: Species → Ecosystem → Community → Innovation → Institution.

Dari satu spesies, ia belajar membaca ekosistem. Dari ekosistem, ia belajar memahami masyarakat. Dari masyarakat, ia melihat pentingnya inovasi. Dan dari inovasi, ia memahami bahwa pendidikan harus menjadi ruang untuk memperluas dampak.

UMI dalam Perjalanan Prof. Mauli Kasmi

Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Prof. Mauli Kasmi memiliki makna tersendiri. Budidaya Perairan UMI menjadi salah satu fondasi pendidikan tingginya. Dari sana, ia melanjutkan pendidikan, meneliti, mempelajari sumber daya perairan, mengembangkan ilmu, mendampingi masyarakat, menghasilkan inovasi, menjadi guru besar, hingga dipercaya memimpin perguruan tinggi negeri vokasi. Jarak antara mahasiswa Budidaya Perairan UMI pada 1990-an dan Direktur Polipangkep hari ini adalah perjalanan lebih dari tiga dekade. Namun, benang merahnya tidak pernah benar-benar berubah: laut, ilmu, dan manusia. Ketiganya menjadi dasar dari perjalanan yang menghubungkan kampus, penelitian, masyarakat, dan kepemimpinan.

Dari Kampus, Menjadi Dampak

Prof. Mauli Kasmi memulai perjalanan akademiknya dari Budidaya Perairan Universitas Muslim Indonesia. Dari sana, ia mempelajari kehidupan di dalam air. Ikan hias membawanya memahami ekologi. Ekologi membawanya melihat pemanfaatan. Pemanfaatan membawanya bertemu masyarakat. Masyarakat membawanya memahami ekonomi. Ekonomi bertemu konservasi. Konservasi membutuhkan inovasi. Inovasi membutuhkan pendidikan. Dan pendidikan akhirnya membawanya pada tanggung jawab memimpin sebuah institusi.

Dari satu spesies, ia belajar melihat ekosistem. Dari ekosistem laut, ia belajar memahami hubungan antara manusia, ilmu, dan sumber daya. Kini, dari ruang kepemimpinan pendidikan vokasi, prinsip yang sama memperoleh skala lebih besar: membangun ekosistem agar ilmu, teknologi, industri, masyarakat, dan generasi muda dapat tumbuh bersama.

Sebab ilmu yang baik tidak hanya membuat manusia memahami kehidupan. Ilmu yang berdampak membantu kehidupan terus bertahan dan berkembang. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang ilmuwan bukan hanya seberapa banyak pengetahuan yang dihasilkan, melainkan seberapa jauh pengetahuan itu mengubah kehidupan di sekitarnya.

Dari spesies menuju ekosistem. Dari penelitian menuju masyarakat. Dari laut menuju kepemimpinan pendidikan. Dari Kampus, Menjadi Dampak(Bersambung)